Ship Anchor

Allison #1


Dia memutar jari-jarinya di udara, lambat. Hampir seirama dengan detak jam di dinding yang mengusam. Matanya melayang beriringan dengan khayalnya, entah kemana, mungkin tempat dimana semua basa-basi omong kosong ini, hanyalah angin yang memainkan rambutnya dengan genit, dan bukan pembuka pembicaraan dan simbol membuka diri. Kakinya ikut bergerak mengikuti saudaranya. Dia mendengus pelan, nyaris tanpa suara.

Andai, hatinya berbisik. Kakinya berhenti memutar, begitupun tangan dan pikirannya. Dalam sedetik itu napasnya tertahan, rasa perih yang telah menghantuinya 3 tahun ini kembali menyesapi syaraf perasanya. Meninggalkan bekas luka yang lebih dalam dari sekedar fisik.

Kelebat-kelebat buruk melintasi logikanya, mencari jalan yang sesuai untuk keluar dalam kata-kata manusia.

Mereka mati karenaku.

"Ya, ibu tidak mau poster-poster itu bergantungan seperti kotoran kelelawar di gua belanda, tidak pantas, mana nilai estetikanya, memalukan! Saya tidak peduli bagaimana caranya, jam setelah saya, kelas ini sudah rapih dan bersih sepert sedia kala! Buka halaman 287!" suaranya menggelegar tanpa kompromi, memantul di ruangan 8x8 meter. Beberapa suara terdengar berusaha memotong, membela diri, tapi rupanya kebebasan belum sepenuhnya bebas berkeliaran di area pendidikan, setidaknya jika wanita ini berada di ruangan. 48 tahun, bermajor kimia, malaikat yang tanpa lelah meneriaki siswa saat upacara agar menutup mulut-mulut kotor mereka dan berdiri layaknya tiang bendera yang gagah menjulang dengan merah putih dipuncaknya. "Sudahlah, wanita tua itu tak mengerti," Ninis berbisik seraya menyikut gadis di sebelahnya pelan, ada nada kesal terselip di suaranya. "oh, yang benar saja," jawab gadis itu dengan sarkastik. Otaknya benar benar kaku dan membara di saat yang sama, kilasan memori sialan itu terus memutarkan hitam putihnya masa-masa kelam layaknya film klasik rusak dan dunia nyata pun tidak membantu sama sekali.

Ia gadis yang cerdas, cantik. Kepribadiannya -untuk saat ini, baik, ceria, menarik. Kukatakan seperti itu karena hanya tuhan seorang yang tahu bagaimana Rora -lengkapnya Aurora, dapat melakukannya, sedetik ini ia seorang putri manis dengan tingkat kesopanan layaknya bangsawan, sedetik berikutnya ia menjadi arwah marah dengan gemuruh dendam yang siap menghancurkan apapun dan siapapun yang ada di jarak pandangnya. Namun, beberapa bulan ini, tampaknya ia mulai lebih konsisten dengan pribadinya, nyaris tak terlihat sisa-sisa trauma dari kecelakaan 3 tahun yang lalu.

Rora menarik udara pengap di sekitarnya dengan perlahan, membiarkan lembabnya memenuhi paru paru dan keluar dari tempat yang sama mereka masuk. Ujung matanya menangkap bersit khawatir dari teman sebangkunya, "Apa aku harus khawatir atau membiarkanmu dalam diam, karena raut mukamu benar benar tak bisa ditebak,"

"Opsi kedua," jawab Rora singkat, metode bernapas yang diajarkan dulu di sesi terapi sama sekali tidak membantu menyingkirkan mimpi buruk, tidak, jangan sekarang. Tangannya dengan seenaknya mengeluarkan keringat dingin yang dengan cepat menularkan hal yang sama ke bagian tubuhnya yang lain. Sudah tak terhitung dengan tangan berapa kali ia meremaskan jari-jari ke rok abu serangamnya yang kini kusut dan basah.

Rora memejamkan matanya, gelap, dan bukan hanya secara harfiah. Udara terasa pekat dan hampa di saat bersamaan, mustahil bahkan hanya untuk disaring serambut gelombang suara. Pekak rasanya.

Rora...

Rora membuka matanya dalam satu sentak, bersamaan dengan paru-parunya yang meledak mengeluarkan dan mendorong udara masuk dengan sembrono dan tersentak-sentak. Penglihatannya masih buram, tapi ia yakin semua mata menatapnya kosong dengan mulut ternganga. Ya tuhan.

Ia merasakan kedua bola matanya memutar kedalam, nyaris tak ada sisa warna hitam disana, hanya putih dan berkas-berkas merah. Badannya berguncang pelan, sesekali menjadi lebih intens.  Napasnya sudah jauh dari batas kontrol. Satu sentakan kuat menjatuhkannya ke lantai.

"Ya ampun Rora? Kamu kenapa? Teriakanmu kencang sekali," tanya mereka bersahut-sahutan. Rora memutarkan pandangannya, mengangkat kedua tangannya, seakan memastikan kalau jari-jarinya masih menggantung. "Apa tadi aku tertidur? Apa aku tadi," napasnya kembali sesak. Tidak ada yang menjawab, ruangan sunyi tanpa ada satu getaran yang memecah. Hening.

No Aurora, you were awake. The most you've ever been.

No comments:

Post a Comment