Ship Anchor

Allison #2


Mataku bergantung pada ruang hampa didepan, napas terlampau pelan tanpa suara.  Beberapa pasang mata dengan setengah bingung menatapku resah dan bimbang.  Emosi di ruangan itu tak lagi bisa didefinisikan oleh kata-kata di kamus, seperti lapisan tepung diatas salju yang tertutup kabut. "Stop, please go," gadis asing didekatku mendesis pelan, nyaris tak tertangkap telinga manusia. Matanya tampak sedikit berair, tangannya seakan menggapai wajahnya sendiri, pemandangan yang tak biasa disaksikan, dan kakinya kaku beku bagai mayat.

 "Apa kita perlu memanggil orang tua, atau wali?"
"Ayahnya sudah tiada, dan ibunya sangat sulit dihubungi, tapi sudah saya informasikan"
"Mungkin dokter? Saya rasa mengamatinya seperti ini seharian tidak akan menyelesaikan apa pun"

Bisik-bisik samar mengalir pelan di sela-sela keheningan, gadis ini masih tetap terduduk dengan kaki kaku dan gerakan tangan seperti kucing meraih-raih cahaya laser.

"Rora! Stop acting like an idiot! You're gonna get us all killed!"
"I'm sorry, but who's Rora? And who are you? Who am I? Why am I here?"
"Allison, you're Allison. And you're not supposed to be here, go back to sleep.  Trust me, this is for your own good," nada bicara bayangan di depanku tampak sedikit terlonjak sebelum menjawab, kemudian pergi menghilang di balik lorong hitam, mungkin lebih seperti terhisap masuk, aku tidak tahu.

Untuk pertama kali setelah tidur panjang, aku mencoba memfokuskan penglihatanku pada benda lain selain udara.  Badanku tersentak pelan, seakan bereaksi atas bayangan yang diterima otakku.  Aku menundukkan kepala, menggerakan tangan ke depan wajah, memperhatikannya teliti, ini nyata. Aku memajukan badan, mencoba meraih ujung-ujung kakiku, beku.  Rasa dinginnya yang sangat seperti menyetrum tangan, yang cepat-cepat kutarik balik. Masih terheran-heran dengan fisik yang kumiliki, aku menatap satu-satu segerombolan orang yang sedari tadi menonton.  Tidak ada satupun wajah yang familiar di benakku. Ingin rasanya aku berteriak, tapi tak ada satupun hentakan suara yang keluar.  Napasku semakin tidak teratur, aku memejamkan mata, menarik lutut, dan membenamkan wajahku disana. Gelap.

Samar-samar aku mendengar,

"She need to come back,"
"That's impossible, she's basically been dead for a decade,"
"Aurora can't handle it much longer, you've seen her today,"
"But, we have to try,"
"But we have to try,"



No comments:

Post a Comment